Pondok Pena

Berkaryalah sebelum kesempatan itu hilang dari hidupmu

Contoh Flash Fiction

Masih banyak yang bertanya seperti apa flash fiction itu? Berikut saya beri contoh beberapa flash fiction yang saya ambil dari blog http://writingrevolution09.blogspot.com/2012/03/contoh-flash-fiction.html

Contoh FF 400 kata

Sebelum Jam 6



Aku tidak pernah mengungkapkan cinta. Aku tak tahu apakah emak akan setuju jika kuungkapkan cinta. Setahuku emak setuju jika aku belajar mengambil kedelai di toko Cik Mimin sebelum subuh, kemudian menumbuk, merebus, menyaring dan mengantarnya hangat-hangat ke pelanggan tanpa ada yang rusak tepat jam 6 pagi.



Hari ini sebelum subuh aku pergi ke toko Cik Mimin. Wajahnya tidak tampak seperti biasa. “Tole, pulanglah. Libur.”



Aku bergeming menunggu Cik Mimin memberikan sekarung kedelai. Emak marah kalau aku pulang dengan tangan kosong.



“Haiya, baiklah. Bawa sekarung di belakang sana. Cepat pulang.” Cik Mimin menyuruh membawa karung itu pergi. Tanpa banyak tanya, kutaruh sekarung di belakang sepeda, tak lupa kuikat erat-erat supaya tidak jatuh. 



Dulu pernah ikatannya tidak kuat dan terjatuh di tengah jalan. Kedelai berceceran, aku pungut satu per satu sampai matahari tenggelam kembali. Setelah berhasil mengumpulkan semua kedelai, aku bingung bagaimana cara membawanya, karung itu telah robek. Kulihat emak menyusul, dia menemukanku sedang bingung memasukkan kedelai di karung robek. Hari itu tiba-tiba ada air di mata emak, aku melihatnya dengan jelas karena emak berdiri di depanku, di bawah cahaya bulan terang benderang. Emak kemudian menyuruhku memboncengnya pulang. Katanya Cik Mimin sudah mengganti sekarung kedelai baru di rumah, jadi kami tinggalkan begitu saja kedelai di karung robek.



Setelah yakin ikatan talinya kuat, aku langsung mengayuh sepeda menuju rumah cepat-cepat karena rendaman kedelai semalam telah menunggu untuk ditumbuk. Emak pasti senang kalau aku pulang lebih cepat dari biasanya. Saat sampai di rumah, kulihat Emak masih di tempat yang sama dikelilingi tetangga-tetangga. Mereka biasanya ke rumah untuk ngobrol dengan Emak, kadang mereka saling mencabuti uban, kadang saling memijat. 



“Tole, kamu istirahat. Jangan membuat susu. Emakmu akan pergi jam 6 nanti.” Seorang tetangga menyuruh istirahat tapi tidak kudengarkan. Aku takut emak marah kalau susu tidak diantar pagi ini. 



Kutiriskan kedelai dari rendaman semalam, kemudian kukumpulkan dalam sebuah lumpang kayu, kutumbuk kuat-kuat hingga halus. Setelah itu kurebus dan kusaring. Aku memasukkan susu ke dalam botol dengan hati-hati. Botol-botol berisi susu telah siap di kotak kayu belakang sepeda. Segera kukayuh cepat-cepat ke rumah pelanggan, mereka heran melihatku mengantar susu sepagi itu. 



Hari ini memang ingin pulang lebih cepat, aku akan mengantar emak nanti. Usai sudah tugasku sebelum jam 6. Kuambil sebilah papan kecil, aku akan belajar mengungkapkan cinta di atas papan itu untuk emak terakhir kalinya. Kutulis,

Sutiyem binti Supeno
Lahir : Probolinggo, 12 Maret 1953
Wafat : Probolinggo, 29 Desember 201



Contoh FF  Maksimal 200 kata

Misi Gagal Berbuah Amal



Langit kembali menampakkan wajah merah jingganya, gambaran khas alam ketika senja, persis seperti paras ayu sang gadis, bersemu merah merona tatkala tersipu malu.



Hari itu, ramadhan beberapa tahun yang lalu, misi penyelamatan makanan enak ketika buka puasa bersama kaum dhuafa di masjid sirna sudah, karena pekerjaan mendadak yang harus ku selesaikan sore harinya. Wal hasil aku pun terlambat. Tak lagi terpikir apa yang telah di rencanakan. Tapi justru disinilah aku mulai tersadar kembali melihat mereka.



Ada semburat keceriaan yang begitu tampak jelas, ada yang membulirkan air bening dari bola matanya yang berkaca-kaca, sembari bibirnya bergetar mengucap syukur.



Ya Robbana, mungkin inilah yang dinamakan kebahagiaan sesungguhnya, berbagi. Jelas sekali gambaran ini memperlihatkan betapa mahalnya harga sebuah makanan enak bagi mereka.



Tersisa satu nasi di tanganku.



”Itu bagianmu,” kata temanku.



Tapi baru saja ingin menikmati, kulihat di sudut pelataran masjid seorang bocah dekil, asyik memegangi perut, sepertinya menahan lapar yang amat sangat. Spontan kuberi nasiku. Laparku tidak berarti apa-apa bila dibanding bocah ini, jelas dia lebih berhak. 



Ku semakin mengerti apa itu puasa sebenarnya, untuk bisa menyelami sedikit penderitaan mereka. Kita hanya merasakan kelaparan di siang hari teman, sementara mereka berhari-hari bahkan mungkin lebih.




(Sumber : group TAMAN SASTRA, Oleh : Lucky Andrean Sanusi)

Share this article :
+
Previous
Next Post »
2 Komentar untuk "Contoh Flash Fiction "

sempuran ! buat pemula seperti saya....

Bisa cek flashfiction-ku gak, udah bener atau belum

Sahabat, silakan tulis komentar yang membangun, gunakan bahasa yang baik dan sopan. Mari berbagi dalam kebaikan.
Salam Karya

 
Copyright © 2014 Pondok Pena - All Rights Reserved - DMCA
Template By Kunci Dunia