Sajak-Sajak Hafizh Pandhitio


Teruntuk Apa

Tertuntuk apa?
Jika hanya ingin membuat orang berlarian
Terpeleset dan tersungkur
Di atas setapak basah

Mulut tak bisa lagi berucap
Air mata kini yang bercerita
Tentang samar-samar gagak terbang memutar
Katanya sekelompok sedang berikrar atas nama Tuhan
Sedangkan makhluk ciptaanNya dimusnahkan
Berbeda kepercayaan menjadi alasan

Purwokerto, 29 Januari 2019

(Termaktub dalam buku "Sesapa Mesra Selinting Cinta" diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah, 2019, hal. 30) 

Penantian


Meruginya semesta tanpa hadirmu
Keindahan di saat malam hilang
Dengan ketiadaanmu
Bintang enggan bertebaran, menyapa
Bulan tiada lagi memberi salam
Malam semesta hanya tinggal kesunyian
Tiada arti, hanya menunggu kehadiran
Dalam petang
Tanpa bayang
Tanpa kepastian

Purwokerto, 10 Februari 2019

Sebelum Waktunya

Tidak lagi sempurna kelopakku
Terpetik, hilang takan kembali
Seharusnya kini tumbuh bersinar
Namun kini layu sebelum senja

Purwokerto, 26 Januari 2019

(Termaktub dalam Buku "Semarang Literary Triennale III" diterbitkan oleh Penerbit Hysteria, 2020, 50-51).

Hafizh Pandhitio, Mahasiswa IAIN Purwokerto kelahiran Purbalingga, 19 Desember 1997. Saat ini merupakan mahasiswa semester 3 Program studi Hukum Ekonomi Syariah. Aktif dalam organisnasi Himpunan Mahasiswa Jurusan Muamalah sebagai anggota dalam departemen Riset Hukum dan Kemahasiswaan (RHPK) dan Komunitas kepenulisan di Pesantren Mahasiswa (PESMA) An-Najah , Komunitas Pondok Pena. Motto penulis dalam berkarya “Dunia, Jika ingin mengelilinginya, bacalah. Jika ingin mengukirnya, berkaryalah”. Dengan Motto kepenulisan itu menjadi tekad untuk namanya berada di jejeran penulis jurnal dan penyair nasional sebelum mendapat gelar sarjana.




Posting Komentar

1 Komentar